Desa Wisata Namatota

Kabupaten Kaimana, Papua Barat

Namatota

NAMATOTA – THE HIDDEN GEM

Kampung Namatota didiami oleh masyarakat Papua dari  Suku Koiway. Di Kampung Namatota mengenal Pemerintahan administratif yang dipimpin oleh seorang Kepala Kampung dan Pemerintahan adat yang dipimpin oleh seorang Raja dari keturunan Ombaier. Dimana Kampung Namatota juga berfungsi sebagai pusat kerajaan Namatota yang telah ada sekitar abad ke 16 dan masih ada dan diakui keberadaannya.  Saat ini  Kerajaan Namatota dipimpin oleh Raja Randi Asnawi Ombaier. Namatota merupakan nama salah satu kerajaan tua di Tanah Papua. yang mempunyai peran penting sebagai jalur perdagangan di masa lalu dan menjadi salah satu simpul kembalinya Papua ke NKRI.

JEJAK TOLERANSI DI NAMATOTA

Masyarakat Namatota semuanya beragama islam. Namun mereka sangat menjunjung tinggi nilai toleransi sejak dahulu. Hal ini terlihat pada keberadaan Sekolah Dasar YPK ( Yayasan Pendidikan Kristen ) sebagai satu-satunya sekolah yang ada di kampung Namatota sejak masa guru-guru injil (era misionaris) hingga kini.  Bahkan ketika oleh pemerintah daerah berniat untuk mengubah status sekolah SD YPK menjadi SD Negeri, masyarakat tidak diubah, salah satunya karena SD ini telah menjadi bagian dari sejarah dan Identitas Namatota yang menjunjung tinggi nilai-nilai Toleransi.

Hal ini juga terlihat dari masih kuatnya tali silaturahmi antara orang Namatota di pulau namatota dengan saudara mereka yang mendiami kampung-kampung di sekitar teluk triton yang beragama Kristen. Salah satunya dengan adanya ibu-ibu dari kampung Maimai yang membawa hasil kebunnya untuk dijual di namatota dengan mendayung perahu. Bukan hanya sekedar berjualan tapi mereka melakukan ini untuk sekaligus mengunjungi saudaranya yang mendiami kampung Namatota selama beberapa hari. Dan ketika tiba waktu untuk pulang selain membawa uang hasil penjualan, mereka juga membawa ikan pemberian kerabatnya di Namatota.  

TRADISI SASI

Secara turun temurun umumnya penduduk kampung Namatota bermata pencaharian sebagai Nelayan yang memegang teguh  adat istiadat, dengan kearifan lokal yang masih dipraktekan hingga kini.   salah satunya melalui budaya/tradisi sasi enggama. Tradisi Sasi nggama ini hadir sebagai bentuk kearifan lokal dalam pemanfaatan sumberdaya alam, merupakan jawaban dari terjaganya kekayaan sumberdaya perairan di Namatota.

Sasi nggama, suatu daerah akan ditutup dalam jangka waktu yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan. Penutupan diawalin upacara ritual tradisional menggunakan simbol buah kelapa.

Ritual ini melambangkan ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta atas berkah hasil laut, serta simbol pembayaran kepada alam. Buka Sasi berlangsung selama dua pekan. Sedangkan untuk ukuran hewan yang bisa diambil dan ditinggalkan, diatur Raja Namatota.

Ketika ritual buka Sasi dilakukan. Prosesi pemanenan hewan laut Sasi dilakukan menggunakan metode tradisional, yaitu moloMolo adalah aktivitas menyelam untuk mengambil hasil di dasar laut, tampa menggunakan alat bantu pernafasan atau tabung menyelam. Biasanya, masyarakat melakukan molo hasil laut hanya menggunakan peralatan tradisional, yaitu kacamata molo yang terbuat dari kayu untuk bingkainya, serta kaca diambil dari tutup botol.

Lain lagi dengan Sasi Ikan Lompa. Tradisi ini dapat dijumpai setiap kali  wisatawan berkunjung di Namatota. Ikan lompa   ( Thryssa baelama) ini sangat banyak dan hidup bebas di pantai depan dan belakang kampung Namatota . Oleh Raja dititahkan boleh diambil secukupnya untuk dikonsumsi saat tidak ada lauk di rumah atau diambil sebagai umpan untuk memancing. Dengan catatan tidak boleh diambil dengan menggunakan wadah tapi diambil dengan tangan kosong.  Dipercaya Ikan lompa ini menurut penduduk Namatota punya legenda yang mengikat mereka atau siapa saja yang makan ikan lompa akan terikat selamanya dengan Kampung Namatota.

EKOWISATA DI NAMATOTA

Dari akar budaya yang ada maka pengembangan Kampung Namatota sebagai Kampung wisata pertama di kabupaten Kaimana, disepakati dengan pola Ekowisata. Dimana tujuan namatota  membuka diri untuk menerima pariwisata bukan semata-mata untuk mendapatkan profit. Tetapi untuk mejaga kelestarian alam, lingkungan, budaya dan adat istiadat.

Ekowisata di Namatota tidak hanya sebatas menawarkan keindahan alam dan mendapat profit. Tetapi di dalamnya ada nilai Konservasi, Edukasi, Partisipasi Masyarakat dan Ekonomi. Bahwa masyarakat Namatota adalah  pemilik, penjaga, pengelola dan sekaligus sebagai penerima manfaat dari aktivitas pariwisata. ini termuat dalam dokumen perencanaan pengembangan Kampung wisata kampung model Namatota  sebagai kompas dalam mewujudkan Namatota sebagai Gerbang Pariwisata Kaimana dengan Desa Bahari berbasis masyarakat untuk kelestarian laut dan kesejahteraan masyarakat. 

Ekowisata memungkinkan interaksi yang humanis dimana, masyarakat terlibat menjadi pelaku pariwisata, berbagi kisah keseharian dalam kebahagiaan dan kesederhanaan hidup dari menjaga alam kepada wisatawan yang berkunjung. Disisi lain agar meskipun  Namatota kedatangan para wisatawan dengan berbagai latar belakang budaya yang berbeda, tetapi Namatota tidak boleh kehilangan identitas dan jati dirinya sebagai orang Papua ( kulit hitam, keriting rambut) dan keIslamannya. Yang tak kalah penting, wisatawan yang berkunjung diharapkan dapat belajar bagaimana menjaga alam terutama laut yang adalah Kehidupan bagi Orang Namatota. 

Mengembangkan Namatota sebagai Kampung Wisata , masyarakat didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kaimana dan kemitraan dengan Yayasan EcoNusa, Sebumi id, UID , CI Indonesia,  Komunitas Fotografi Kiamana, Dinas Kominfo dan Perkumpulan PEMALI.  

Di Namatota tersedia akomodasi 5 (lima) rumah warga yang dijadikan homestay, penginapan kampung dengan harga yang terjangkau, bungalow di Pantai Raja dan bagi yang suka tantangan atau outdoor dapat berkemah di Pantai Temaumum.

Beberapa jenis ikan unik yang hanya dijumpai di perairan namatota seperti Heteroconger mercyae, Pentapodus numberii, Pseudochromis jace, Siphamia stenotes, Paracheilinus nursalim, Hiu yang berjalan di pasir (Hemiscyllium henryi), dan Pomacentrus fakfakensis. Selain keindahan alam bawah laut wilayah perairan kampung Namatota juga bagian dari taman laut dari segitiga karang dunia,namatota juga adalah rumah, tempat bermain, makan dan berlindung bagi biota besar seperti jenis Paus Bryde’s, Hiu Paus (Whale Shark) dan lumba-lumba bungkuk Indopasifik,  dan  pari manta. Selain itu terdapat juga penyu jenis sisik dan penyu hijau yang suka berkelana diantara padang lamun yang masih terjaga. Banyaknya spot snorkling dan diving  dengan karang lunak yang berwarna warni membuat para penyelam dunia punya mimpi yang sama, setidaknya sekali waktu menyelam disini. 

Wisatawan berkunjung ke Namatota disuguhkan pengalaman berenang dengan hiu paus yang sangat bersahabat menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan. Disuguhkan keindahan matahari terbit di puncak bukit dengan tracking yang tidak terlampau melelahkan, bertemu senja yang menawan hati di Namatota, wisatawan juga diajak tour keliling kampung, melakukan aktivitas kayaking dengan perahu tradisional, snorkling, diving , berenang, tour menyusuri hutan mangrove, bird watching, berinteraksi dengan lizard (soa-soa), jelajah hutan yang masih alami, tracking ke hidden lagoon (laguna yang tersembunyi), mengunjugi situs prasejarah (lukisan prasejarah di dinding batuan karst ) menikmati suguhan the khas namatota, menikmati segarnya buah kelapa muda, menikmati kuliner khas local namatota, melihat aktivitas perempuan namatota menganyam tomang (noken khas papua selatan)  dan menikmati suguhan tari-tarian tradisional suku koiway. 

Jka  beruntung, saat berkunjung wisatawan dapat bertemu dengan magic hour in namatota. ( keajaiban waktu di Namatota)  Apakah itu… mari, berkunjungl ke Kampung Kami – Kampung Namatota di Selatan Papua. 





Fasilitas

Balai Pertemuan

Jungle Tracking

Musholla

Spot Foto

Produk Wisata

Produk Kuliner